Ritel is Detail entreprenership PER BATCH -2
Minggu, 09 Maret 2014
Sekolah Kehidupan Seri Pulang Kampung (10 Maret 2014) Bagian 7: Perbincangan dengan Pak Wangsa Ati menikmati percakapan yang asyik dengan pak Wangsa seorang kenalan baru dalam perjalanan pesawat terbang menuju Jakarta namun kenyamanan Ati terganggu ketika pak Wangsa menanyakan dari SMA mana ia berasal. Ini sulit buat Ati untuk menjawab karena ia hanya lulusan SMP. Ati memutuskan untuk jujur karena itulah yang diajarkan dalam Mandiri Sahabatku bahwa entrepreneur bisa sukses bersama kejujuran tapi ia sadar bahwa ia juga harus cerdik. Ati tidak mau jadi orang jujur yang bodoh dan inilah cara ia menjawab: “Saya sudah tahu jawabannya pak, saya pasti tidak pernah satu SMA dengan keponakan bapak... nah sebelum saya jelaskan dapatkah bapak menebak apa pekerjaan saya sekarang...? “Opps.... betul juga ya mbak kita seru ngobrol dan saya juga sudah cerita tentang diri saya tapi saya belum banyak bertanya kepada mbak Ati atau neng Ati saja ya saya panggilnya..”Demikian pak Wangsa berkata sambil menggaruk kepala lalu ia mulai menebak:”Kalau dari obrolan kita tadi .... mmm mungkin Neng Ati ini seorang dosen muda yang jangan-jangan hadir di seminar yang sama dengan saya. Sebelum kita ngobrol saya lihat neng Ati sangat asyik dengan laptop dan catatan selama di pesawat. Dosen memang senang belajar kan...? “Tebakan pak Wangsa salah......”. Ati dengan segera menjawab sambil terseyum. “Satu kali lagi pak dicoba...?” Ati memberi kesempatan kedua pada pak Wangsa sementara itu hatinya berbunga-bunga, bangga juga dikira sebagai dosen “Barangkali karena aku bawa laptop dan catatan ya...” Ati berkata pada diri sendiri. “Mmmm ..... apa ya, kalau begitu neng Ati adalah mahasiwi S2 karena kalau mahasiswi S1 rasanya tidak mungkin mereka biasanya jauh lebih muda...Jadi Anda adalah mahasiswi S2 yang sedang melakukan riset di luar negeri....?” Pak Wangsa coba menebak lagi dan tentunya ini keliru namun itu sekali lagi membuat Ati makin merasa melambung ke awan- awan. Ati terseyum dan ia merasa sudah merasa ini saatnya beterus terang: “Terima kasih pak Wangsa, semua tebakan bapak membuat saya terasa tersanjung... Saya ingin berterus terang bahwa saya tidak pernah menyelesaikan SMA bukan saya tidak mau dan saya rasa bukan juga saya tak mampu tapi karena saya tak memiliki kesempatan itu, saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga miskin dan sejak usia muda saya harus bekerja.......” Ati menjawab ini dengan kepala tegak, Ia ingat apa yang dikatakan pengajar di Mandiri Sahabatku, terima diri, bertumbuh dan banggalah pada diri sendiri. “Jadi, jadi... apa pekerjaan Anda?”Pak Wangsa bertanya dengan wajah terkejut dan terheran-heran. “Saya bekerja sebagai domestic worker di Hong Kong, kerap kami mengatakan bahwa kami adalah BMI atau Buruh Migran Indonesia, ada yang mengatakan Penata Layan Rumah Tangga atau yang lebih populer adalah TKW, saya sudah 10 tahun melakukan pekerjaan itu di Hong Kong” Ati menjelaskan dengan mantap tanpa rasa rendah diri. Sementara Ati dan pak Wangsa berbincang penumpang disebelah pak Wangsa di kursi yang bertepian dengan gang (aisle) memanggil pramugari dan bertanya. Sayangnya penumpang ini yang kebetulan orang Hong Kong ternyata bahasa Inggrisnya sulit dipahami oleh pramugari sehingga terjadilah percakapan yang tak nyambung atau kesulitan komunikasi. Ati kembali melakukan inisiatif dengan cara menjadi penterjemah, ia berkomunikasi menggunakan Cantonese dengan penumpang Hong Kong lalu menterjemahkan ke bahasa Indonesia kepada pramugari Garuda. Pak Wangsa pun jadi geleng-geleng kepala baru pertama kali ia bertemu dengan BMI yang cekatan, cerdas dan berwawasan luas. “Saya jujur lho neng Ati tidak saya sangka bahwa Anda tidak selesaikan jenjang SMA dan tidak pernah kuliah S1..... Anda memiliki wawasan yang luas khususnya tentang entrepreneurship.”Pak Wangsa memuji Ati dengan hati tulus. “Terima kasih pak Wangsa, ini sebuah penghargaan yang luar biasa tapi saya harus juga mengatakan bahwa saya tidak lebih hebat dari lulusan SMA maupun lulusan S1. Ada mata pelajaran SMA yang saya tak pernah pelajari seperti apa tuh.... Kimia, Biologi... atau Logaritma dan yang lain-lainnya. Tentang hal itu pasti saya bloon deh pak... Juga dengan pelajaran bisnis, pengajar saya mengatakan bahwa kami belajar segala sesuatu yang akan kami butuhkan untuk kami bisa mandiri. Segala sesuatu yang lain yang mungkin bagus untuk dipelajari namun tidak terlalu kami butuhkan kami tak mendapatkannya. Misalnya ... itu... tuh.. yang ada makro.. makronya...hmmm apa ya?” Ati mengerenyitkan dahi mencoba mengingat kembali. “Ekonomi Makro ... apakah itu yang dimaksud?”Pak Wangsa yang dosen bisnis dengan cepat menebak. “Betul-betul pak.... ekonomi makro. Ini semua karena kami memiliki keterbatasn waktu pak, kami belajar dalam program Mandiri Sahabatku hanya hari Minggu inipun tidak sepanjang tahun. Syukurlah terkahir ini ada Pembelajaran jarak Jauh. Itu sangat menolong kami...”Demikian Ati menjelaskan dengan rendah hati. Sementara pak Wangsa masih terbengong- bengong Ati melanjutkan. “Demikianlah pak tentang saya, sederhana saja bukan. .? Saya bukan lulusan SMA dan bukan juga S1 tapi saya percaya keberhasilan dalam kehidupan tidak diukur oleh banyaknya ijazah sekolah formal. Ijazah Sekolah Kehidupan lebih penting buat saya. Bukankah kita bisa menemukan lulusan SMA yang jadi pengemis atau penjahat katanya karena tak ada kerja, lulusan S1 yang menganggur juga ratusan ribu jumlahnya di Indonesia. Bukankah apa yang diajarkan di sekolah tak selalu cocok dengan yang dibutuhkan di dunia kerja bukan? Setelah belajar entrepreneurship saya mengalami banyak perubahan, Mindset, Attitude, Skill dan Knowledge saya rasanya makin berkembang makin dekat dengan yang dibutuhkan oleh dunia nyata. Saya yakin koq saya bisa jadi manusia mandiri walau sekarang tidak memiliki ijazah SMA dan S1....hmmm jadi ingat istilah STM atau Sanggup Tidak Miskin” “Sekarang apa rencana hidup neng Ati, apa akan kembali bekerja di Hong Kong lagi? Atau sekarang mau liburan di kampung halaman..?” Pak Wangsa yang makin merasa kagum kembali bertanya. “Pak Wangsa setelah mengikuti Mandiri Sahabatku cara berpikir saya sudah berbeda. Sekarang pekerjaan BMI menjadi tujuan sementara untuk saya. Saya memiliki tujuan yang lebih besar, saya ingin jadi entrepreneur, saya ingin jadi pengusaha di tanah air sendiri dan saya sudah membuat Road Map (peta rencana) nya.”Ati menjelaskan dengan mantap. “Lalu, sekarang sudah sampai dimana melaksanakan Road Map anda..? Kembali pak Wangsa bertanya. Ati diam sejenak, matanya memandang ke atas:”Saya harus merubah Road Map saya pak..... bulan lalu ibu saya meminta saya mendukung adik untuk kuliah dan selesaikan S1..” “Jadi.... apa perubahannya?” Pak Wangsa makin bersemangat bertanya. “Saya akan mengikuti jejak rekan Susilowati untuk bekerja dulu di sektor formal, jadi pekerja profesional lalu setelah itu baru mencipta usaha bisnis sendiri..., masalah saya sekarang bagaimana mendapatkan informasi tentang pekerjaan yang cocok dengan kecakapan-kecakapan yang sudah saya miliki..”Demikian Ati menjelaskan. “Hmmm... tidak mudah untuk anda, kebanyakan pekerjaan menuntut adanya pendidikan akademis dan bila ijazah tertinggi hanya SMP maka hampir tidak ada lowongan pekerjaan profesional yang tersedia....”Dahi Pak Wangsa tampak merengut sedang berpikir keras dan wajah serius pak Wangsa sempat mengerucutkan semangat Ati. Syukurlah beberapa waktu kemudian Pak Wangsa tampak berseri dan berkata:”Hey....hey..hey neng Ati jangan lupa kita adalah pembelajar entrepreneurship, kita percaya pada inovasi untuk solusi, inovasi membuat yang kelihatan tak mungkin jadi mungkin. Jadi sekarang kuncinya adalah menemukan inovasi bagaimana caranya agar neng Ati bisa Bundaakinkan perusahaan pencari karyawan profesional itu bisa mengabaikan persyaratan ijazah akademis....” “Betul-betul tapi........ bagaimana caranya ya....? Ati bergembira seakan menemukan solusi tapi ia juga bingung bagaimana cara menemukan inovasinya. ----------------------------------------------- bersambung Apa saja ya inovasi yang bisa dilakukan seseorang yang tidak memiliki persyaratan yang cukup namun bisa menembus pasar kerja profesional..? 3 jam yang lalu sekitar Daerah Khusus Ibukota Jakarta S
Sekolah kehidupan 10 Maret 2014) Bagian 6: Melakukan Inisiatif untuk Meluaskan Jejaring Kisah sejati Susilowati menyentak pemikiran Ati, ia seakan menemukan sebuah pintu jalan keluar namun pintu itu ada disana dalam ketingian. Ia tahu bahwa bila ia berhasil menjadi karyawan profesional ia bisa memberi jalan keluar untuk adiknya tapi hanya dengan bermodal ijazah SMP apa mungkin bisa menembus pasar kerja dan memperoleh posisi yang menjanjikan. “Ah.... pusing aku..” Demikian Ati menghela nafas panjang. Ia kemudian teringat kembali nasehat para sahabatnya dalam grup belajar 4E. “Hmmm ... nasehat Tika sudah aku laksanakan, membaca dan merenungkan kisah sejati Susilowati.... sekarang apa ya nasehat Bunda...oh.. apa ya... kalau tidak salah lakukan inisiatif , ya lakukan inisiatif..... tapi inisatif apa ya....” Tepat ketika hati Ati mengatakan demikian sudut matanya tiba-tiba melihat sesuatu yang sudah akrab dengannya ada di halaman buku yang dibaca oleh bapak yang duduk disebelahnya:”Kenapa tidak melakukan inisiatif berbincang dengan bapak ini saja... paling tidak punya kenalan baru, bertambah teman itu kan memperluas jejaring...., betul juga ya”. Ati teringat pada pembelajaran tentang Komunikasi dan Ketrampilan Menjual di Kelas Dasar Mandiri Sahabatku. Bapak yang duduk disebelah Ati tampak sangat terpelajar, ia menghabiskan waktu dengan membaca buku tentang perihal Manajemen Bisnis dan ketika halaman buku tersebut tiba pada bahasan tentang SWOT (Strength, Weakness, Opportunity & Thread) pada saat itulah sudut mata Ati membaca kata SWOT yang cukup besar tercetak. “Aku akan beraksi sekarang, ini Ati yang baru, berani dan percaya diri. Ati yang lama pasti tidak berani membuka percakapan dengan orang asing..”Demikian Ati Bundaakinkan dirinya sendiri. “Selamat pagi pak, tampaknya bapak dosen ya yang sedang mempersiapkan kuliah tentang SWOT untuk mahasiswa bapak...?”Demikian Ati membuka percakapan sambil terseyum. Bapak yang duduk disebelah menoleh dan dengan wajah santun ia menjawab: “Betul mbak saya sedang mengisi waktu nih... habis perjalanan Hong Kong Jakarta ini panjang juga ya...” “Setahu saya mengajarkan SWOT tidak gampang ya pak, kelihatannya bapak sedang mencari contoh-contoh supaya mahasiswa gampang mengerti ya pak..., wah pasti bapak ini pengajar yang baik..” Ati sekarang menggunakan ilmu komunikasi yang pernah ia pelajari yaitu jangan sungkan memberikan apresiasi kepada sesama asalkan itu jujur dan tulus. “Ha.. ha... ha... mbak bisa saja, mengajar dan membuat mahasiswa saya makin pintar itu memang tugas seorang pendidik mbak.” Bapak disamping Ati tertawa kecil dan tentunya hatinya bahagia memperoleh pujian. “Pengalaman saya belajar SWOT dulu pak yang susah adalah membedakan antara Strength (Kekuatan) dan Opportunity (Peluang) lalu juga membedakan Weakness (Kelemahan) dengan Thread (Ancaman).... saya harus diskusi dengan teman dan tanya dosen lagi pak tentang hal itu. Jadi tampaknya bapak jangan tertipu lho oleh mahasiswa yang pura-pura tahu”. Demikian Ati berbagi. “Oh begitu ya mbak, dulu belajar SWOT dimana mbak..?” Sekarang bapak ini yang balik bertanya. “Saya pernah mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh dari Universitas Ciputra tentang Pengantar Entrepreneur Ritel, nama dosen kami bpk Nur Agustinus pak... wah untung saya punya dosen yang telaten kalau tidak sulit juga mengerti SWOT itu dengan baik...., ngomong-ngomong bapak mengajar di Universitas Citra Raya ya dan kelihatannya bpk mengajar di fakultas bisnis...jaket bapak ada tulisannya tuh...?’ Ati sekarang menggunakan ilmu komunikasi yang lain yaitu memperhatikan dengan seksama apa yang dikenakan lawan bicara sehingga bisa paham latar belakang atau hal-hal yang disukai oleh lawan bicara. “Betul-betul mbak saya sudah 20 tahun mengajar di Universitas Citra Raya dan baru saja saya ikut seminar tentang Pendidikan Tinggi Abad 21 di Hong Kong...” Bapak di sebelah Ati tampaknya senang mendapat perhatian Ati dan ia kemudian malah menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak ditanyakan Ati. Mellihat lawan bicara nya makin santai dan lancar Ati kembali mengajukan pertanyaan:” Pak apakah di kampus bapak entrepreneurship juga diajarkan...?” Sekarang Ati mengajak bapak disebelahnya untuk berbicara topik yang ia sangat kuasai yaitu entrepreneurship. Ati berpikir kalau pembicaraan tentang politik, seni budaya atau olah raga ia merasa agak tertinggal sehingga ia sengaja membawa lawan bicara ke topik yang ia sangat kenal. “Ya mbak pada tahun 2008 saya pernah mengikuti pelatihan bagaimana mengajarkan entrepreneurship yang diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi yang bekerja sama dengan UCEC, itu lho Universitas Ciputra Entrepreneurship Center. Pada masa itu dosen-dosen Perguruan Tinggi dari seluruh Indonesia mendapatkan kesempatan untuk dilatih oleh tim UCEC, itu lho ada yang nama nya sia tuh .. pak Antonius Tanan, lalu ada yang kurus dan berkumis dan ada yang gemuk dan suka melucu...” Bapak di sebelah Ati memegang dahi dan tampak mencoba mengingat-ingat. Ati langsung menjawab dengan cepat:”Saya tahu pak apa yang bapak maksud, itu adalah pak Agung Waluyo dan pak Dharma Kusuma, saya juga pernah ikut pelatihan UCEC.........nah kalau begitu bapak pasti pernah baca buku Quantum Leap yang ditulis oleh pak Ciputra?” Demikian sekarang Ati mengeluarkan jurus komunikasi berikutnya yaitu jurus bertanya. Pertanyaan yang tepat akan membuat lawan bicara merasa nyaman, merasa dihargai dan ditanggapi. “Iya dong belajar entrepreneurship ya harus belajar dari maha gurunya yaitu pak Ciputra sendiri, pada saat pelatihan kami tahun 2008 kami dibagikan buku itu dan itu menjadi panduan saya mengajar entrepreneurship, buku Quantum Leap 2 juga sudah saya miliki...” Demikian bapak ini menjawab dan obrolan mereka berdua makin asyik saja tampaknya. Ati sudah sering berlatih berjualan dan juga pernah magang di Bank Mandiri oleh karena itu tidak heran ia lancar berkomunikasi dan tahu cara dan siasat untuk membuat lawan bicara merasa nyaman dan asyik berbicara dengan dia. “Hmmm memang tidak percuma aku memaksa diri latihan berjualan dan cari teman sebanyak mungkin... sekarang terasa tidak canggung.” Demikian Ati mensyukuri pengalaman-pengalamannya di Hong Kong menggeluti entrepreneurship. Bermula dari buku Quantum Leap akhirnya obrolan mereka berdua makin mendalam tentang entrepreneurship. Bapak ini mengajak berbicara tentang ragam topik perihal entrepreneurship seperti kreativitas, inovasi, ketrampilan menjual, menemukan peluang, verifikasi peluang, strategi kompetisi, strategi promosi, bootstraping, business model canvas, cash flow dll dan semua itu dapat ditanggapai Ati dengan lancar karena memang ia tidak pernah absen mengikuti pembelajaran Kelas Dasar, Kelas Lanjutan, Kelas Pembelajaran Jarak Jauh yang ia jalani 4 bulan lamanya. “Ya... yang topik-topik seperti ini pernah aku pelajari... bukan topik yang susah..”.Ati makin merasa percaya diri. Saking asyiknya mereka ngobrol tiba-tiba bapak disamping Ati baru sadar bahwa mereka belum berkenalan. “Mbak asyik banget nih ngobrol entrepreneurshipnya sampai lupa kenalan, nama saya Wangsa Dinata, panggil saja pak Wangsa..”. Lalu pak Wangsa mengulurkan tangan mengajak berkenalan. “Nama saya Ati Mulyati, panggil saja Ati pak,,,”Ati juga memperkenalkan diri. “Kalau dari logat bicara, mbak ini dari Jawa Barat ya seperti saya jua...?” Pak Wangsa sekarang bertanya. “Muhun pak abdi urang Sunda...”Ati dengan segera menjawab menggunakan bahasa ibunya. Ia tahu bila ada makin banyak kesamaan dengan lawan bicara maka lawan bicara makin percaya kepadanya. Ini juga ilmu komunikasi. “Kalau saya lihat dari penampilan mbak rasanya mbak ini seumur dengan keponakan saya dan mirip salah satu temannya di SMA dulu, jangan-jangan mbak teman dari keponakan saya....ngomong-ngomong SMA nya dulu dimana mbak...? Ups.... ini pertanyaan yang tak terduga, Ati kaget, jantung Ati berdegup lebih cepat. Ini pertanyaan yang akan membuka siapa dirinya sesungguhnya. “Haruskah aku jujur kepada pak Wangsa bahwa aku hanya lulusan SMP...? Demikian Ati bergumul dalam hati. --------------------------------------------- ----------bersam
Sekolah Kehidupan Seri Pulang Kampung (8 Maret 2014) Bagian 5: Belajar akan Mengubahkan Masa Depan Kisah Susilowati membuat Ati terus berpikir dan berefleksi hampir ia tidak peduli pada sekeliling. Tontonan video atau games yang ada di pesawat tidak ia gubris bahkan siapa yang duduk disebelahnya juga ia tidak sadari. Namun sebuah pengumuman dari pilot tentang kondisi cuaca perjalanan membuat Ati menengok ke samping, sekilas ia melihat sosok seorang bapak di usia 50 an duduk sambil membaca buku. Ia tampak terpelajar dan memang di jaket yang digunakannya tercantum sebuah badge dengan nama UCR (Universitas Citra Raya). Tidak lama Ati menengok karena ia kemudian teggelam lagi dalam kisah Susilowati yang belum selesai. Kisah Susilowati (3): Saya Memutuskan Kerja di Singapura Setelah lulus selang satu hari saya memutuskan untuk pergi ke Singapore, semua keluarga saya sangat sedih, tapi saya berusaha menjelaskan sama mereka saya pergi hanya 2 tahun untuk cari pengalaman dan untuk belajar bahasa Inggris serta untuk cari uang buat melanjutkan kuliah. Akhirnya mereka merelakan saya. 3 bulan di penampungan kemudian saya terbang ke Singapore dan disini saya mendapatkan majikan yang sangat baik selain itu kerjaan saya juga sangat mudah hanya bersih2 rumah. Saya punya banyak waktu untuk belajar hingga akhirnya saya juga memanfaatkan waktu saya untuk berbisnis. Saya sering jualan HP ke teman2 sekitar rumah, juga jualan pakaian. Dan keuntungan yang saya dapat cukup lumayan. Dua tahun sudah berlalu saya pulang dan ingin mengejar cita2 saya, tapi papah saya bilang rumah kami yang kecil mau roboh karena memang sudah lama tidak di perbaiki, dengan berlinangan air mata saya serahkan semua uang yang sudah saya tabung ke papah saya untuk membangun rumah baru dan saya hanya Bundaisakan Rp 3.000.000 ditangan saya. Akhirnya sayapun kembali lagi ke Singapore untuk mencari modal lagi tapi papah saya mengatakan uang yang 2 thn hasil kerja saya tidak cukup untuk bikin rumah kami berdiri. Papah bilang: “Malu nak, kalo rumahnya sampai ga jadi berdiri sama tetangga”. Akhirnya hasil kerja saya selama 4 tahun cuma buat membangun rumah saya, saya senang dan iklas karena sekarang kami sekeluarga sudah punya rumah baru seperti dulu saat masa2 indah di saat kami masih kecil, punya rumah yang besar. Kemudian papah sayapun sudah mulai membuka toko lagi mesti masih kecil2an dan belum sebesar dulu, berlahan tapi pasti kehidupan keluarga saya kembali normal seperti dulu. Adik saya sudah masuk SMA favorite dan mengambil jurusan IPA, selangkah lebih pintar dari saya karena saya dulu mengambil jurusan IPS. Saya kembali nambah kontrak kerja di Singapura dan papah mengatakan kepada saya bahwa hasil uang gaji saya yg selanjutnya tidak perlu di kirim lagi. Papah saya menyuruh saya untuk menabungnya untuk biaya kuliah saya kelak, tapi berhubung adik saya sudah lulus SMA akhirnya saya suruh adik saya untuk kuliah dan saya yang membiayainya. Sekarang adik saya sudah jadi guru sambil kuliah dan 2 semester lagi akan lulus dan menyandang gelar S1. Di Singapura saya masih memendam impian saya untuk kuliah lagi, saya sering curhat sama majikan saya tentang keinginan saya dan mimpi saya, hingga akhirnya saya di carikan tempat kursus dengan syarat sepulang kursus harus langsung pulang kerumah. Akhirnya pada tahun 2009 saya berusaha ikut kursus computer dan bahasa inggris di HOME (sebuah lembaga pelatihan untuk buruh migran di Singapore) tapi cuman kelas basic saja. Pada tahun 2010 saya dapat kabar dari teman-teman saya kalau di Hotel Grandhyatt di buka pendidikan Diploma Bisnis, kerja sama antara MTM (yayasan untuk pemberdayaan BMI di Singapura) dengan LEE COMMUNITY COLLEGE yang biayanya relatif murah, maka sayapun berusaha mengikutinya. Saya sangat bahagia waktu itu, tapi kebahagiaan saya hanya setahun karena sebelum kami menyandang gelar diploma ternyata Lee Coomunity College tidak bisa melanjutkan kerja sama lagi dengan pihak MTM. Jadi saya hanya dapat kesempatan untuk kuliah 1 tahun. Saya sedih sekali waktu itu, sampai saya menangis keras sekali di kamar saya, tapi mulut saya tutup pakai bantal biar tidak ada orang yang dengar. Saya selalu bersedih bila melihat teman-teman kelas saya ataupun teman sekolah yang dulu saat di kelas biasa-biasa saja tapi sekarang sudah jadi guru, bidan, PNS polisi ABRI, pramugari dll. Saya hanya bisa menangis menghadapi kenyataan itu. Sementara saya yang dulu berprestasi, masih belum bisa mewujudkan mimpi saya untuk melanjukan kuliah. Kadang jika perasaan sedih itu semakin menyiksa, saya berteriak di kamar saya sambil bilang “Singapore..!!! I will be back next time, not for working as domestic worker but for buy a apartemen house here.. I will become a successful businesswomen..!!”. Dan setiap saya bangun tidur dan gosok gigi di kamar mandi, di depan cermin saya selalu berkata pada diri saya sendiri “SAYA AKAN JADI ORANG YANG SUKSES, ITU PASTI..!! SAYA AKAN SUKSES..!! Selalu seperti itu tiap pagi. Walaupun memang saya tidak bisa melanjutkan sekolah di Lee Community College, saya tidak putus asa, lepas dari LCC saya ikut ENTREPRENUERSHIP CLASS. Ini adalah kerja sama antara UCEC (UNIVERSITAS CIPUTRA Entrepreneurship Center) dan MTM. Akhirnya saya bisa sekolah, disini saya belajar banyak hal tentang entrepreneurship dan bisnis, dan begitu banyak pengalam yang saya peroleh dari kelas entrepreneurship ini yang membuat saya menjadi pribadi yg berwawasan luas tentang bisnis. Saya jadi tahu bagaimana cara mengelola bisnis dengan baik, bagaimana cara mengatur keuangan. Saya menjadi pribadi yang lebih berani, tahan banting atau tidak lemah, menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab dan yang jelas saya siap untuk menjadi seorang business women. Setelah pulang dari Singapore, saya ingin sekali membuka toko fashion dan jika toko itu kelak bisa sukses, saya juga ingin sekali membuka butik. Saya akan menggunakan ilmu yang saya peroleh dari LEE COMMUNITY COLLEGE dan UNIVERSITAS CIPUTRA sebagai bekal. Saya ingin sekali membuka bisnis itu dan tentu saja sambil mewujudkan mimpi saya untuk melanjutkan kuliah. Saya ingin menyelesaikan kuliah saya sampai ke jenjang S2. Dan saya tidak perduli sebagaimanpun susahnya tapi saya akan berjuang seperti dulu saya berjuang untuk bisa lulus SMP dan SMA. Saya tidak akan menangis lagi jika suatu hari nanti saya harus hanyut di sungai lagi dan saya tidak akan bersedih lagi jika mamah saya tidak bertanya kenapa baju saya warnanya berubah jadi coklat. Saya selalu yakin, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, kalau kita mau berusaha untuk mewujudkanya tentunya dengan tekad dan niat yang bulat serta tulus iklas di sertai dengan kerja keras dan doa, niscaya, pasti Tuhan akan memberikan jalan, sesusah apapun keadaanya. Sukses itu datang bukan hanya karena keberuntungan tapi karena kerja keras. Pada bulan Februari 2012, Susilowati mengirimkan emailnya kepada Antonius Tanan pengajar entrepreneurship dari UCEC sebagai berikut: Date: Wed, 8 Feb 2012 07:52:49 +0800 Subject: RE: Satu Mimpi di balik seribu impian hidup Akhir Mei, kontrak kerja saya sudah habis dan passport juga expired date pak. Rencana saya, pertama2 setelah sampai Indonesia: 1. Saya mau bikin KTP 2. Saya mau bikin Passport 3. Saya ingin cari pengalaman kerja di daerah Jawa, Jakarta, Bandung, Yogya atau di mana saja yg penting masih di Jawa bukan di luar Jawa. 4. Mencari teman yang banyak, menghadiri berbagai seminar bisnis 5. Setelah dapat kerjaan saya ingin bekerja sambil kuliah, pagi sampai sore kerja terus malam saya kuliah. 6. Setelah cukup punya pengalaman, punya banyak teman, saya baru ingin merintis bisnis, bisnis apa saja yang penting saya ingin terjun kedunia bisnis dalam hal ini adalah berdagang, tidak berpatokan pada pada fashion saja, tapi saya ingin melihat peluang tapi alangkah lebih baiknya jika saya berbisnis di bidang yg saya suka, bisa fashion atau design(kerajinan), kuliner. 7. Saya berharap bisa sukses 5 tahun mendatang, meskipun tidak mudah saya akan bekerja keras, dan mencobanya Itulah rencana yang telah saya susun pak, untuk kegiatan saya di indonesia setelah saya pulang nanti. Yang jelas kuliah dan berbisnis akan jadi prioritas saya. Saya tidak akan mikirin yang lain2 saya ingin jadi orang sukses dan membahagiakan mamah serta papah saya. salam Susilowati Pada awal September 2012 kembali Susilowati mengirimkan email dan mengabarkan bahwa dia dalam dua bulan terakhir ini sudah menjadi GM (General Manager) sebuah hotel bintang satu dengan 45 kamar, 1 restaurant dan 2 hall utk acara meeting ataupun wedding. Susilowati berhasil meraih posisi sebuah pekerjaan formal dan professional yang baik dan dapat dibanggakan selepas melalui pengalaman pembelajaran di Singapura. Bukan sembarang pengalaman belajar tapi menjadi seorang murid dari Sekolah Kehidupan. --------------------------------------------- -------------------- Ati mengerenyitkan dahinya dan berpikir:”Apa maksud Tika meminta aku membaca kisah Susilowati ya..? Sebuah pencerahan tiba-tiba masuk ke Kehidupan
Rabu, 05 Maret 2014
Sekolah Kehidupan Seri Pulang Kampung Bagian 3: Melakukan Perenungan di dalam Perjalanan Pulang. Pesawat GA 863 berangkat tepat waktu, Ati duduk di tepi jendela memandang lepas ke bawah ke bandara International Hong Kong gerbang kota Hong Kong yang telah ia lalui berkali-kali dalam 10 tahun terakhir. Perjalanan 10 tahun menempuh Sekolah Kehidupan. “Aku pulang dengan ijazah Sekolah Kehidupan...” Demikian Ati memberi semangat pada diri sendiri. Pesawat Garuda terbang makin keatas menuju awan-awan dan dari jendela pesawat deretan gedung tinggi mulai tampak berjejer menjulang keatas dan perlahan tampak makin kecil bersamaan dengan pesawat yang makin meninggi. “10 tahun penuh kenangan... dan juga perubahan, aku memilih sebuah jalan yang baru yang mungkin jutaan BMI lain belum memulainya namun baru saja langkah pertama akan kuambil tantangan besar sudah di depan mata..”Ati berkata-kata dengan dirinya sendiri sambil membuka laptopnya. Seperti saran Tika sahabatnya ia telah mengunduh kisah tentang Susilowati yang pernah menjadi BMI di Singapura. Susilowati memberikan judul untuk kisahnya yaitu sbb: Karena aku yakin, bahwa Untuk setiap kesedihanku, Tuhan menyiapkan kebahagiaan. Inilah kisah nyata tentang Susilowati yang ditulis oleh dirinya sendiri. Kisah Susilowati (1): Masa Bidadari KecilkuNama saya Susilowati. Saya di lahirkan di kota Cilacap. Saya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Saya mempunyai seorang kakak laki-laki dan dua adik perempuan, dengan kata lain saya adalah anak perempuan tertua di keluarga saya. Ketika saya di lahirkan sebenarnya saya berasal dari keluarga yang mampu atau berkecukupan. Papah saya seorang bandar gula merah dan mamah saya punya toko sembako kebutuhan sehari-hari. Masa kecil saya dan kakak laki-laki saya cukup bahagia hingga saat saya berusia 5 tahun lahirlah adik perempuan pertama saya, kebahagian keluarga kamipun bertambah sejak adik kami lahir. Waktu terus berlalu sampai saya masuk SD, kehidupan keluarga kami masih baik-baik saja hingga sampai suatu hari tragedi itu datang. Rumah kami di rampok orang, tidak tanggung-tanggung gerombolan perampok itu membawa kendaraan roda empat dan menguras habis semua dagangan serta uang tunai yg ada di rumah kami. Saat itu saya baru duduk di kelas 4 SD sementara kakak saya mau mulai masuk SMP. Kami sekeluarga merasa sangat sedih, sampai-sampai sampai kakek saya (ayah dari mamah saya) kena serangan jatung dan meninggal dunia. Kesedihan keluarga kami tidak sampai di situ saja, papah saya juga terlilit hutang di bank hingga satu persatu aset keluarga kami di jual, dari rumah, tanah dan perhiasan. Sehingga dengan terpaksa kami tinggal di rumah kecil yang menyatu dengan toko kami. Tiga tahun berlalu hingga kakak saya lulus dari SMP dan melanjutkan ke STM. Waktu itu kehidupan keluarga kami menjadi semakin sulit karena biaya sekolah kakak saya yang begitu mahal dan pada masa itu adik perempuan saya yang kedua juga lahir pada thn 1997. Akhirnya toko mamah saya mengalami kebangkrutan total. Peristiwa itu terjadi bertepatan dengan saya kelulusan saya dari SD dan mendapat nilai terbaik. Dan selama saya sekolah SD saya selalu mendapat rangking satu hingga saya dapat beasiswa prestasi. Setelah lulus saya ingin sekali melanjutan sekolah ke SMP N. 1 SIDAREJA karena sekolah itu adalah sekolah terbaik di kota kami tapi mamah saya melarang saya melanjutkan karena tidak punya biaya. Saya sedih sekali, saya tidak peduli dengan larangan mamah saya, saya datang sendiri ke SMP N.1 SIDAREJA dengan berjalan kaki saya mendaftar pakai uang tabungan saya. Akhirnya saya di terima, tapi saya tidak punya biaya, hingga saya minta beasiswa sama wali kelas saya dengan syarat saya harus jadi siswa yang berprestasi kalau tidak bisa rangking satu paling tidak masuk sepuluh besar. Akhirnya saya mendapatkan beasiswa. Letak sekolah saya sangat jauh dari rumah, saya tidak punya sepeda jadi terpaksa saya jalan kaki. Tiap hari saya berangkat sekolah jam 5 pagi sendirian berjalan melewati 5 desa, saya berjalan sambil berlari-lari melewati persawahan, perkebunan dengan jalan yang sangat sepi serta masih gelap. Keinginan sekolah saya lebih besar di bandingkan dengan ketakutan saya terhadap gelap dan sepinya jalan-jalan desa itu serta isu tukang culik sekalipun. Saya berlari sambil menghafal setia mata pelajaran, hingga jam 7 tepat saya sampai di sekolahan dan bel masuk selalu berdering bersamaan dengan sampainya saya di kelas. Sebelum berangkat sekolah saya tidak sempat makan dan saya juga tidak pernah minta uang jajan kepada mamah saya. Sehingga setiap hari saya mulai makan jam 3 sore ketika saya pulang sekolah. Kadang satu minggu saya hanya dikasih uang jajan hanya sekali yaitu Rp 500 tapi saya tidak pernah memakainya, tapi selalu saya tabung. Sempat pada suatu hari ketika saya pulang sekolah pas hujan deras sekali dan saya harus melalui sungai yang tidak ada jembatannya. Karena saya takut pulang telat dan takut di marahin mamah maka saya terpaksa nekat menyeberang hingga saya hanyut kesungai tapi Alhamdulillah ada orang yang menolong saya, seorang pelajar SMA yang kebetulan lewat. Baju seragam putih biru berubah jadi coklat tua karena kena arus air sungai yang berwarna kecoklatan, saya menangis di bawah derasnya hujan, saya sedih sekali tapi tak ada satu orangpun yang tahu kalau saya menangis. Sesampainya di rumah mamah sayapun tak bertanya apa2 tentang warna baju saya yang berubah karena jujur mamah saya lebih perhatian sama kakak saya yang notabene hanya anak laki-laki satu-satunya serta kedua adik perempuan saya. Tapi saya tidak menyalahkan sikap mamah saya waktu itu karena memang posisi saya di keluarga kurang menguntungkan karena jadi anak perempuan pertama coba kalau jadi anak bungsu pasti lebih di sayang. --------------------------------------------- ------------- Seperti kebiasaan yang Ati saat belajar di Mandiri Sahabatku maka Ati segera mengeluarkan buku catatannya, berpikir dan merenungkan untuk mendapatkan hikmat dari cerita Susi dan inilah yang Ati tuliskan: • Kesulitan dan halangan sepanjang jalan menuju cita-cita dapat terjadi kapan saja, dapat sangat mengganggu dan bahkan seakan menciptakan jalan buntu. Kata kuncinya jangan menyerah. • Cita-cita yang besar menuntut pengorbanan yang besar. Beranilah menempuh kesulitan-kesulitan masa kini untuk membeli keindahan masa depan . • Teruslah belajar. --------------------------------------------- ----------------bersambung
Sekolah Kehidupan Seri Pulang Kampung Bagian 2: Hampir Tidak Jadi Pulang Kampung (5 Mar 2014) Ati sesungguhnya hampir membatalkan rencana dia pulang kampung ketika sebuah sms dari ibunya datang sekitar bulan lalu. “Ati tahun depan adikmu paling kecil si Maman akan selesai SMA dan ingin sekali masuk Universitas. Ati bantu ya... mau kerja di Hong Kong 2 tahun lagi tidak apa- apa untuk bantu Maman jadi sarjana. Supaya ada sarjana di keluarga kita..” Ini sebuah permintaan yang mebuat Ati gundah gulana karena keinginan hatinya sudah keras membulat untuk pulang kampung dan sukses jadi entrepreneur. Rencana bisnis yang inovatif sudah rapih tersusun. Apa-apa yang akan dilakukan mulai hari pertama menjejak di kampung halaman sudah ia rencanakan dan bayangkan. Bahkan tabungan sebanyak Rp 100 juta juga sudah ia miliki. Ati sudah sangat siap masuk ke medan laga karir entrepreneur, ia siap mendaratkan imajinasi terindah yang sudah ia perjuangkan dalam 2 tahun terakhir ini. Memang Ati adalah pembelajar yang serius, ia belajar dengan sepenuh hati dari Mandiri Sahabatku tanpa pernah absen sekalipun. Sekarang cita-cita itu mendapat tantangan baru. Akankah ia memaksa diri dan meminta Maman untuk kerja dulu ataukah ia yang terpaksa menunda rencananya? Sungguh pelik masalah ini bagi Ati. Di satu sisi keinginannya sudah membuncah dan di sisi lain ia paham perasaan ibunya dan adiknya yang sudah langganan juara kelas. Seperti makan buah simalakama demikian kata pepatah “dimakan ayah mati tidak dimakan ibu mati..”. Ati menghela nafas panjang sambil membaca kembali sms dari ibunya yang sengaja ia tetap simpan. “Aku sekarang mendapatkan masalah yang begitu berat. Seandainya aku memaksa diri untuk tetap berentrepreneur maka pasti dukungan keluarga akan sangat tipis. Aku bisa kehilangan tenaga karena pada masa awal perjuangan aku harus sendirian...” Demikian Ati berrefleksi. “Tapi.... kalau aku tidak segera membuka usaha, ngapain saja di kampung. Apa harus daftar lagi jadi TKI....? Hatiku sudah tidak disana, 10 tahun cukup sudah...” Demikan sisi lain dari hatinya berkata. Di tengah kebingungan itu Ati teringat akan pelajaran inovasi di pelatihan Mandiri Sahabatku. Ia membuka-buka kembali catatan dan ia menemukan sebuah kalimat yang menarik yang pernah ditayangkan di layar oleh pelatih dari UCEC yaitu kata ISO yang berarti Inovasi Kanggo Solusi dengan keterangan “Kalau sesuatu terasa begitu SULIT atau BUNTU ingatlah bahwa itu tanda bahwa SOLUSI lama sudah tidak BERLAKU”. Langsung Ati memukul-mukul kepalanya dan berkata:”Duh, bodo si Ati, kenapa aku terkunci kepada dua alternatif bantu Maman tapi tidak jadi berentrepreneur atau tidak bantu Maman dan aku tetap buka usaha. Dua hal itu adalah solusi lama karena sekarang sudah terasa sangat sulit dilaksanakan, aku harus berinovasi menemukan solusi baru.... ya...ya... yes.. yes..” Ati seakan mendapatkan jalan keluar. Baru sebentar kegembiraan Ati tiba-tiba ia merasa lemas lagi:”Di Hong Kong aku punya 2 sahabat yang bisa saling tukar pikiran dan memberi semangat mencari solusi baru tapi di kampung dengan siapa aku berdiskusi....,” Akhirnya Ati memutuskan untuk mengirim sms kepada Tika dan Bunda meminta nasehat, Ati ingin menggunakan waktu tunggu di bandara sebaik mungkin: “Sahabat-sahabatku, masih ingat kebingungan yang aku ceritakan itu... tolong dong kasih gagasan nih sebelum aku sampai di rumah..” Tidak lama kemudian memang muncul sebuah jawaban sms dari Tika: “Baru saja baca kisah tentang Susilowati seorang BMI yang pernah kerja di Singapura dan sekarang berhasil jadi GM sebah hotel bintang 1 di Jawa Tengah, ini alamat webnya, cepat buka, down load dan baca pelan-pelan selama di pesawat...” Bunda juga tidak lama kemudian membalas sms Ati: “Hmmm belum kepikir, pakai doa dulu deh tapi...anyway buka pikiran dan lakukan insiatif baru..selamat jalan sobat aku tetap mendukung dalam doa dan gagasan kalau sudah ketemu...” “Sumber solusi baru adalah pikiran yang kreatif...teruslah membuka hati dan pikiran untuk jalan yang tak terduga..”Cikal juga memberi semangat. Ati dengan segera membuka laptopnya, disambungkan dengan fasilitas wifi di bandara Hong Kong dan mencari situs web yang memuat kisah Susilowati: “Mudah-mudahan kisahnya menarik dan menginspirasi aku..” Demikian ia bergumam sendiri --------------------------------------------- -------------------bersambung Refleksi: Kalau pulang kampung nanti apa rencana Anda...? Apakah sudah menyiapkan diri? Kemarin pukul 6:09 Suka · 10 Komentar · Bagikan
Senin, 03 Maret 2014
Sekolah Kehidupan Seri Pulang Kampung Bagian 1: Ati Melakukan Refleksi Tidak terasa 10 tahun sudah Ati berada di Hong Kong, ia sudah bertekad akan pulang kampung ke Subang, Jawa Barat. Tekad dan rencana sudah makin membulat dan makin kokoh selepas menyelesaikan Kelas Dasar, Kelas Lanjutan, Kelas Utama dari Mandiri Sahabatku dan juga Pembelajaran Jarak Jauh Entrepreneur Kuliner dari Universitas Ciputra. Persahabatannya dengan Tika dan Bunda atau Meti tidak terasa sudah memperkaya satu sama. Ati merasa cukup sudah menjalani Sekolah Kehidupan selama 10 tahun di Hong Kong. Ia bukan Ati 10 tahun yang lalu. Ia bukan lagi gadis desa yang lugu dan pemalu:”Aku sudah berubah makin baik dan pantas untuk percaya diri...” Itu yang dikatakan Ati berulang-ulang kepada dirinya sendiri. Sebuah pagi di bulan Desember 2014 menjadi pagi yang istimewa. Ati melangkah masuk ke Hong Kong International Airport dengan perasaan yang sangat berbeda. Begitu kokoh niatnya untuk pulang kampung dan berentrepreneur sehingga tawaran keluarga Lee untuk menaikkan gajinya 25% tidak menggoyahkan keputusannya. Pelukan dan lambaian tangan selamat tinggal itulah yang ia berikan kepada keluarga Lee dan Ati sudah bertekad tidak akan kembali ke Hong Kong sebelum sukses jadi entrepreneur. “Aku akan masuk Hong Kong lagi dengan passport pelancong...” Demikian ia bertekad. GA 863 masih 2 jam lagi akan terbang dan Ati memanfaatkan waktu untuk memeriksa pesan-pesan di HP miliknya. “Sobat, doa-doa kami menyertaimu, jadilah pelopor diantara kita bertiga untuk sukses jadi entrepreneur. Diskusinya masih bisa teruskan lewat Facebook..., kayaoooo” Demikian isi sms dari Tika. “Ati 2012 bukan Ati 10 tahun yang lalu Sekolah Kehidupan sudah membuat Ati jadi manusia baru....bergeraklah terus sahabat dan inovasikan masa depan....”Demikian sms dari Bunda memberi semangat. “Harapan-harapan baru..akan menuntut keputusan-keputusan baru. Sobat Ati engkau bukan lagi Ati yang lama. Kau sudah berani menjangkau harapan dengan membuat sebuah keputusan yang baru...Teruslah bergerak ke muka sahabatku...” Cikal juga berpesan. “Hmmm perubahan dalam diriku tampaknya bukan aku saja yang melihat..tapi apa saja ya yang sudah berubah dalam diriku..?”Demikian Ati berpikir dan bertanya pada diri sendiri. Ia kemudian mengambil buku catatan yang memang selalu ia bawa kemana-mana dan kemudian menuliskan kembali rangkaian perubahan yang terjadi dalam dirinya. “Dulu, 10 tahun yang lalu aku hanya gadis desa lulusan SMP, berbahasa Indonesia dan bahasa Sunda saja. Teman-temanku sebatas teman sekampung, duniaku ya dunia kampung Cihideung itu saja.....”. Ati menghela nafas sejenak dan pikirannya seakan mengembara kepada rangkaian tahun yang telah ia lalui khususnya ketika ia mulai sadar bahwa ia memiliki hak untuk membangun impian dan begerak memperjuangkannya. “Hmmm, itulah tahun-tahun aku berubah banyak...” Demikian ia berbicara kepada dirinya sendiri. “10 tahun di Hong Kong, apa artinya ya...paling tidak sekarang bisa berbicara dalam 2 bahasa asing, Kantonese dan Mandarin, selain itu bisa paham percakapan dalam bahasa Inggris....Dulu tidak berani bicara di depan umum, sekarang aku berani, dulu tidak bisa jualan sekarang ketagihan jualan, dulu sedikit teman sekarang banyak teman dari seluruh Indonesia, dulu nol besar masalah bisnis sekarang ya bolehlah kalau ngobrol soal bisnis, dulu gagap teknologi sekarang aku punya email, facebook dan juga blog.. apa lagi ya” Ati kemudian meraba sebuah map plastik yang selalu ia bawa dalam tasnya. Di dalam map plastik itu tersusun rapih semua sertifikat dan penghargaan yang ia berhasil peroleh selama 10 tahun di Hong Kong. “Ah tak terasa cukup banyak yang berhasil aku raih tapi yang penting bukan lembaran kertas ini tapi ijazah kehidupan yang terukir kokoh dalam hatiku.., untung aku aktif membangun diri dan tak buang waktu” Demikian Ati berkata pada diri sendiri. Ia kemudian membuka kembali buku catatan pelatihan Mandiri Sahabatku yang sering ia bawa-bawa dalam tasnya. “Ah aku teringat lagi kisah tentang Hiu Kolam dan Hiu Lautan, apakah aku sekarang sudah makin menjadi Hiu Lautan kah..?” Ati bertanya kepada diri sendiri dan makin memperdalam refleksinya. Hiu kolam dibesarkan dalam kolam mendapatkan makanan setiap hari tanpa harus berburu di lautan luas sehingga ia kehilangan kesanggupan untuk cakap hidup mandiri di lautan luas. Sangat ironis karena di lautan luas tersedia segala macam makanan yang dapat disantap oleh hiu jauh lebih banyak dari yang ada di kolam. Sebaliknya hiu lautan sudah terbiasa dan terlatih hidup di lautan luas sehingga untuk hiu lautan bukan hal yang sulit untuk cari makan di lautan luas. Lembar-lembar catatan tentang kisah Hiu Kolam dan Hiu Lautan membawa Ati kepada 4 perbedaan antara “hiu kolam” dan “hiu lautan” yaitu Mindset (Pola Pikir), Attitude (Sikap/ Karaker), Skill (Kecakapan/Ketrampilan) dan Knowledge (Pengetahuan) yang oleh para pengajar Mandiri Sahabatku kerap disingkat jadi MASK. “Hmmm, apakah rasanya sekarang aku sudah memiliki MASK yang baru..” Ati terseyum dengan hati penuh syukur. --------------------------------------------- ------------- bersambung Apakah setelah mengikuti pelatihan-pelat ihan entrepreneurship para sahabat telah memiliki MASK (Mindset, Sttitude, Skill & Knowledge) yang baru...? Apa yang sudah berubah dalam diri Anda? Baru saja Refleksi
Minggu, 29 September 2013
JURNAL MER BACT #3
STRATEGI PEMASARAN
Bisnis Ritel Merupakan aktivitas Bisnis yang melibatkan penjualan barang dan jasa secara langsung kepada konsumen akhir.pada perkembangannya kini bisnis ritel di indonesia mulai bertranfarmasi dari bisnis ritel tradisional menuju bisnis ritel modern.perkembangan bisnis ritel modern di indonesia sudah semakin menjamur di hampir seluruh wilayah indonesia,hal tersebut dapat di lihat dari banyak nya toko toko ritel modern yg membuka cabang di berbagai daerah di indonesia
Setelah saya memperhatikan dan mengamati beberapa toko ritel di daerah saya kesuksesan suatu usaha terletak di dalam beberapa hal berikut ini yaitu :
1 LOYALITAS KONSUMEN yg berarti kesetiaan konsumen untuk berbelanja di lokasi ritel tertentu.memiliki konsumen yg loyal Adalah Metode yg penting dalam mempertahankan keuntungan dari para pesaing jika memiliki konsumen yg loyal berarti konsumen memiliki keenganan untuk menjadi pelangan pesaing
2 ) LOKASI adalah faktor utama dalam pemilihan untuk konsumen,ini jg keunggulan bersaing yg tidak mudah di tiru contohnya star bucks mereka menciptakan keberadaan pasar yg sulit untuk di saingi,mereka selalu menentukan lokasi yg selalu strategis,pemilihan lokasi yg tepat merupakan komitmen sumber daya jangka panjang yg dapat mengurangi fresibilitas masa depan ritel itu sendiri.lokasi bisa mempengaruhi pertumbuhan bisnis ritel di masa yg akan datang dan area yg dipilih harus mampu untuk tumbuh dari segi ekonomi sehingga dapat mempertahankan kelangsungan toko saat awal atau pun masa yg akan datang.penentuan lokasi dalam bisnis ritel dapat di mulai dgn memilih komunitas keputusan ini sangat bergantung pada potensi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas maupun persaingan serta iklim politik itu jg geografis sangat menentukan.
3 ) MANAJEMEN (SDM) SUMBER DAYA MANUSIA
Bisnis tenaga kerja intensif para pegawei memiliki peranan penting dalam memberikan layanan pada konsumen dan membangun loyalitas konsumen.
4 ) SISTEM DISTRIBUSI Dan INFORMASI
Saya melihat ritel berusaha untuk mengelola usaha secara efesien mereka terus memenuhi kebutuhan konsumen, memberikan harga lebih baik dari harga pesaing nya atau memutuskan mengunakan kesempatan guna menarik perhatian konsumen dari para pesaing dengan menawarkan jasa barang dan penyajian visual yg lebih baik.
5 ) BARANG DAGANGAN YANG UNIK : didalam usaha ritel sebagian menyadari keunggulan bersaing yg dapat di pertahankan dan bertahan lama yaitu dengan mengembangkan merk"Berlabel privat ( Disebut Merk Toko ) merupakan produk yg di kembangkan dan di pasarkan oleh ritel dan hanya tersedia di ritel tersebut.
6 ) HUBUNGAN PARA PEDAGANG : Dengan memperkuat hubungan dengan para pedagang bisa mendapatkan hak esklusif misalnya : - Untuk menjual barang barang di suatu daerah
- Untuk memperoleh Barang terbaik dan pengiriman yg singkat cepat dll,dan layanan terhadap konsumen ritel harus mengembangkan secara komprehensif bentuk layanan yg akan di berikan kepada pelangan.
7 ) LAYANAN KONSUMEN : Membutuhkan waktu dan usaha dalam membangun sebuah tradisi dan reputasi untuk layanan konsumen karena layanan konsumen yg bagus adalah Aset strategis yg sangat berharga,menjual berbagai macam barang dengan harga yg murah dan memberikan pelayanan yg minimum, ramah, tempat yg nyaman dan mudah di jangkau.
Ini Hasil survei saya dalam Mengamati strategi Pemasaran apa yg di gunakan " STAR BUCKS CAFFE " dalam mencapai kesuksesannya Membangun usaha dan Mempertahankannya..... !!
Budaya minum kopi terutama di pagi hari sangatlah khas kita dengar setiap harinya dan ini tidak hanya di pagi hari saja melainkan saat istirahat siang ataupun ketika menghabiskan waktu bersantai sore hari kopi selalu menjadi teman setia banyak orang.budaya yg awalnya hanya di barat inipun muncul sebagai salah satu kebutuhan yg tidak terlepaskan dalam kehidupan sehari hari terutama para pencinta kopi.meningkatnya permintaan akan kopi memancing munculnya berbagai Brand dan kedai kedai kopi di sekitar kita
Pengunjung kedai kedai ini pun tidaklah sedikit begitu pula dengan keuntungan yg di dapat oleh produsen namun tidak semua pengunjung adalah penikmat kopi melainkan hanya srkedar mencari suasana atau bahkan untuk menunjukan status sosial.jika di tarik kesimpulan bahwa budaya minum kopi itu sendiri telah berkembang tidak hanya sebagai pemuas kebutuhan para pencinta kopi saja tetapi jg muncul sebagai trend atau gaya hidup tersendiri
STAR BUCKS CAFFEE merupakan kedai kopi yg sangat terkenal di dunia,jumlah kedai starbucks telah mencapai lebih dari sepuluh ribu gerai kedai kopi yg tersebar di seluruh dunia.Brand yg berasal dari Amerika tidak hanya menawarkan kwalitas tinggi di setiap produknya tetapi jg mengedepankan kesenangan para pelangan melalui SERVICE dan ATMOSFER tempat yg Nyaman,tidak hanya itu starbucks jg sangat menjaga kepuasan para pelangannya.banyak orang di dunia tidak terkecuali indonesia telah menjadi pengemar setia Brand yg sudah ada sejak tahun 1990 an ini dan tidak segan segan untuk mengeluarkan uang demi segelas kopi nikmat dari star bucks setiap harinya.oleh karena itu tidak heran kalau starbucks telah menjadi yg terdepan dalam bidang nya.
Di industri ini starbucks jg mempunyai pesaing sebagai penyuguh minuman kopi diantaranya yaitu: Coffe Bean, Dunkin Donnuts, Begawan solo Coffe,Mac Coffe dan masih banyak lagi.di dalam menghadapi maraknya persaingan starbucks tetep berpegang teguh pada statemen yg di kutip dari situd resminya yaitu :" WE'RE COMITTED TO OFFERING OUR CUOSTOMERS THE WORLD'S BEST COFFE AND THE FINEST COFFEE EXPERIENCE" yg Atinya Starbucks selalu menjanjikan kwalitas terbaik untuk pelangan dalam setiap produknya".
Menurut survei kecil yg saya lakukan dgn mendatangi tempatnya langsung dan jg bertanya kebeberapa orang mengenai starbucks dan pesaingnya menunjukan bahwa hampir semua responden menjawab tetep memilih starbucks di bandingkan para pesaingnya dalam memenuhi kebutuhan akan kopinya ataupun sekedar tempat bersantai.hasil survei ini menunjukan meskipun pars pesaing starbucks menawarkan produk yg hampir serupa jenisnya,suasana yg dibuat serupa contohnya: Dengan memberikan soffa dan lainnya dan bahkan menawarkan dgn harga yg lebih murah tetap saja para responden lebih memilih star bucks dgn berbagai alasannya dan salah satu alasan nya antara lain adalah karena kebanyakan orang lebih pertama mengenal starbucks sebagai pilihan tepat dalam urusan kopi ( positioning ) ingin minum kopi pastilah starbucks yg di tuju.selain itu starbucks lebih mudah di jangkau dan di temukan ( place ) karena jumlah starbucks sangat banyak terutama di mall mall atau di tempat keramaian lainnya.lokasi yg strategis untuk memasarkan dan menjual produk sangat menentukan tingkat penjualan produk dan keberhasilan suatu usaha,lokasi yg tepat,nyaman,mudah di temukan dan di jangkau itulah yg di inginkan oleh konsumen.
" salam Enterpreneur "
By : Ikka Indah S