Senin, 03 Maret 2014

Sekolah Kehidupan Seri Pulang Kampung Bagian 1: Ati Melakukan Refleksi Tidak terasa 10 tahun sudah Ati berada di Hong Kong, ia sudah bertekad akan pulang kampung ke Subang, Jawa Barat. Tekad dan rencana sudah makin membulat dan makin kokoh selepas menyelesaikan Kelas Dasar, Kelas Lanjutan, Kelas Utama dari Mandiri Sahabatku dan juga Pembelajaran Jarak Jauh Entrepreneur Kuliner dari Universitas Ciputra. Persahabatannya dengan Tika dan Bunda atau Meti tidak terasa sudah memperkaya satu sama. Ati merasa cukup sudah menjalani Sekolah Kehidupan selama 10 tahun di Hong Kong. Ia bukan Ati 10 tahun yang lalu. Ia bukan lagi gadis desa yang lugu dan pemalu:”Aku sudah berubah makin baik dan pantas untuk percaya diri...” Itu yang dikatakan Ati berulang-ulang kepada dirinya sendiri. Sebuah pagi di bulan Desember 2014 menjadi pagi yang istimewa. Ati melangkah masuk ke Hong Kong International Airport dengan perasaan yang sangat berbeda. Begitu kokoh niatnya untuk pulang kampung dan berentrepreneur sehingga tawaran keluarga Lee untuk menaikkan gajinya 25% tidak menggoyahkan keputusannya. Pelukan dan lambaian tangan selamat tinggal itulah yang ia berikan kepada keluarga Lee dan Ati sudah bertekad tidak akan kembali ke Hong Kong sebelum sukses jadi entrepreneur. “Aku akan masuk Hong Kong lagi dengan passport pelancong...” Demikian ia bertekad. GA 863 masih 2 jam lagi akan terbang dan Ati memanfaatkan waktu untuk memeriksa pesan-pesan di HP miliknya. “Sobat, doa-doa kami menyertaimu, jadilah pelopor diantara kita bertiga untuk sukses jadi entrepreneur. Diskusinya masih bisa teruskan lewat Facebook..., kayaoooo” Demikian isi sms dari Tika. “Ati 2012 bukan Ati 10 tahun yang lalu Sekolah Kehidupan sudah membuat Ati jadi manusia baru....bergeraklah terus sahabat dan inovasikan masa depan....”Demikian sms dari Bunda memberi semangat. “Harapan-harapan baru..akan menuntut keputusan-keputusan baru. Sobat Ati engkau bukan lagi Ati yang lama. Kau sudah berani menjangkau harapan dengan membuat sebuah keputusan yang baru...Teruslah bergerak ke muka sahabatku...” Cikal juga berpesan. “Hmmm perubahan dalam diriku tampaknya bukan aku saja yang melihat..tapi apa saja ya yang sudah berubah dalam diriku..?”Demikian Ati berpikir dan bertanya pada diri sendiri. Ia kemudian mengambil buku catatan yang memang selalu ia bawa kemana-mana dan kemudian menuliskan kembali rangkaian perubahan yang terjadi dalam dirinya. “Dulu, 10 tahun yang lalu aku hanya gadis desa lulusan SMP, berbahasa Indonesia dan bahasa Sunda saja. Teman-temanku sebatas teman sekampung, duniaku ya dunia kampung Cihideung itu saja.....”. Ati menghela nafas sejenak dan pikirannya seakan mengembara kepada rangkaian tahun yang telah ia lalui khususnya ketika ia mulai sadar bahwa ia memiliki hak untuk membangun impian dan begerak memperjuangkannya. “Hmmm, itulah tahun-tahun aku berubah banyak...” Demikian ia berbicara kepada dirinya sendiri. “10 tahun di Hong Kong, apa artinya ya...paling tidak sekarang bisa berbicara dalam 2 bahasa asing, Kantonese dan Mandarin, selain itu bisa paham percakapan dalam bahasa Inggris....Dulu tidak berani bicara di depan umum, sekarang aku berani, dulu tidak bisa jualan sekarang ketagihan jualan, dulu sedikit teman sekarang banyak teman dari seluruh Indonesia, dulu nol besar masalah bisnis sekarang ya bolehlah kalau ngobrol soal bisnis, dulu gagap teknologi sekarang aku punya email, facebook dan juga blog.. apa lagi ya” Ati kemudian meraba sebuah map plastik yang selalu ia bawa dalam tasnya. Di dalam map plastik itu tersusun rapih semua sertifikat dan penghargaan yang ia berhasil peroleh selama 10 tahun di Hong Kong. “Ah tak terasa cukup banyak yang berhasil aku raih tapi yang penting bukan lembaran kertas ini tapi ijazah kehidupan yang terukir kokoh dalam hatiku.., untung aku aktif membangun diri dan tak buang waktu” Demikian Ati berkata pada diri sendiri. Ia kemudian membuka kembali buku catatan pelatihan Mandiri Sahabatku yang sering ia bawa-bawa dalam tasnya. “Ah aku teringat lagi kisah tentang Hiu Kolam dan Hiu Lautan, apakah aku sekarang sudah makin menjadi Hiu Lautan kah..?” Ati bertanya kepada diri sendiri dan makin memperdalam refleksinya. Hiu kolam dibesarkan dalam kolam mendapatkan makanan setiap hari tanpa harus berburu di lautan luas sehingga ia kehilangan kesanggupan untuk cakap hidup mandiri di lautan luas. Sangat ironis karena di lautan luas tersedia segala macam makanan yang dapat disantap oleh hiu jauh lebih banyak dari yang ada di kolam. Sebaliknya hiu lautan sudah terbiasa dan terlatih hidup di lautan luas sehingga untuk hiu lautan bukan hal yang sulit untuk cari makan di lautan luas. Lembar-lembar catatan tentang kisah Hiu Kolam dan Hiu Lautan membawa Ati kepada 4 perbedaan antara “hiu kolam” dan “hiu lautan” yaitu Mindset (Pola Pikir), Attitude (Sikap/ Karaker), Skill (Kecakapan/Ketrampilan) dan Knowledge (Pengetahuan) yang oleh para pengajar Mandiri Sahabatku kerap disingkat jadi MASK. “Hmmm, apakah rasanya sekarang aku sudah memiliki MASK yang baru..” Ati terseyum dengan hati penuh syukur. --------------------------------------------- ------------- bersambung Apakah setelah mengikuti pelatihan-pelat ihan entrepreneurship para sahabat telah memiliki MASK (Mindset, Sttitude, Skill & Knowledge) yang baru...? Apa yang sudah berubah dalam diri Anda? Baru saja Refleksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar